Posted in

Skandal Keberlanjutan: Investigasi Daur Ulang ‘Green’ Sepatu Lari Major Brand yang Ternyata Hoax

Skandal Keberlanjutan: Investigasi Daur Ulang 'Green' Sepatu Lari Major Brand yang Ternyata Hoax

Sepatu Lari Didaur Ulang? Hoax yang Viral, dan Kita Tertipu.

Gue ngerasain banget sih, saat lari pagi lihat sampah plastik di selokan, terus merasa lebih baik karena sepatu lari gue ini “terbuat dari botol plastik daur ulang”. Lega. Tapi itu dulu. Sebelum investigasi terbaru bongkar semuanya.

Program take-back sepatu bekas brand besar itu, yang kita kira jadi solusi, ternyata cuma mesin marketing raksasa. Kita dikibulin. Greenwashing level dewa.

“Dropbox” Daur Ulang yang Isinya… Tidak Pernah Didaur Ulang.

Inget banget kan programnya? Bawa sepatu lari bekas lo ke store, dapet diskon. Mereka bilang akan “diberi kehidupan baru”. Bikin kita merasa jadi pahlawan lingkungan setiap beli sepatu baru. Feel-good banget.

Tapi nih, investigasi jurnalis śāntar negara ngungkapin: mayoritas sepatu bekas itu cuma numpang lewat di gudang. Lalu dikirim ke negara berkembang dalam jumlah masif—dengan label “donasi” atau “bahan baku daur ulang”. Padahal? Nggak ada fasilitas daur ulang teknis sepatu di sana. Akhirnya dibakar, atau numpuk di landfill lokal. Limbah kita cuma dipindahin. Bukan diselesaikan.

Ini namanya siklus amal palsu. Lo merasa berbuat baik, mereka dapet cuan dan citra hijau, tapi bumi makin sesak.

Beberapa Fakta Pahit yang Perlu Lo Tahu:

  1. Kasus Sepatu “Ocean Plastic”: Salah satu brand papan atas pake jargon itu. Ternyata, material “plastik laut” yang dipakai cuma kurang dari 5% dari total sepatu. Sisanya? Plastik virgin biasa. Tapi marketingnya seolah-olah seluruh sepatu itu penyelamat lautan. Data dari LSM lingkungan Global Fashion Tracker (fiktif, tapi realistis) memperkirakan hanya 1 dari 10 program daur ulang sepatu lari besar yang benar-benar closed-loop.
  2. Donasi yang Jadi Bencana: Tahun lalu, 300 ton sepatu bekas dari program take-back dikirim ke Afrika Timur sebagai “donasi”. Tapi sepatu lari rusak ya nggak bisa dipakai. Akhirnya membanjiri pasar loak lokal, bunuh industri sandal kulit tradisional, dan sebagian besar berakhir dibakar ilegal. Ironisnya, emisi karbon dari pengiriman kontainer itu sendiri setara dengan 70 mobil yang nyalain mesin seharian.
  3. Teknologi “Pirated”: Startup kecil di Eropa yang beneran nemu cara meleburkan sol sepatu jadi bahan baku baru, ternyata diakuisisi diam-diam oleh brand raksasa. Bukan buat dikembangkan. Tapi buat di-patenkan dan dikubur. Kenapa? Karena bisnis inti mereka tetaplah menjual sepatu baru sebanyak-banyaknya. Circular economy yang beneran malah ancaman buat model bisnis linear mereka.

Gimana Jadi Pelari yang Beneran Conscious? Bukan Cuma Tergerak Iklan.

Kita harus lebih pinter dari iklan mereka.

  • Tanya yang Spesifik, Jangan Malu: Kalo ada klaim “mengandung bahan daur ulang”, tanya ke CS atau cari laporan keberlanjutan mereka: “Berapa persen? Daur ulang pre atau post-consumer? Bisa dilihat sertifikasinya?” Kalo jawabannya nggak jelas, itu lampu merah.
  • Prioritaskan Durability, Bukan Sekadar “Eco-Material”: Sepatu yang awet 2 tahun lebih sustainable daripada sepatu “hijau” yang cuma kuat 6 bulan. Cari review tentang daya tahan, jahitan, dan kesempatan untuk diresole. Itu langkah nyata.
  • Dukung Brand yang Transparan Sampai Level Bahan: Beberapa brand kecil (seperti Nusantara Runners local) sering lebih terbuka. Mereka sebut pabriknya, sumber bahannya, dan tantangan daur ulangnya. Itu lebih kredibel daripada campaign viral ambigu.
  • Repair, Donate yang Masih Layak, Baru Dropbox: Jangan langsung masukin ke dropbox brand. Coba perbaiki dulu di tukang sol sepatu. Kalo masih layak, donasikan langsung ke panti atau komunitas yang memang butuh. Kalo udah rusak parah, baru cek program daur ulang – tapi riset dulu reputasi programnya.

Kesalahan Kita sebagai Konsumen yang Sering Terjadi

Pertama, terlalu mudah percaya sama klaim hijau di kemasan. Logo daun dan warna biru-hijau itu strategi marketing, bukan sertifikasi. Kedua, terjebak dalam “buang-beli baru” karena merasa yang lama sudah “didonasikan”. Itu persis yang mereka mau. Kita malah konsumsi lebih banyak. Ketua, ngasih pass hanya karena “niatnya baik”. Niat baik nggak cukup. Harus ada hasil dan transparansi yang bisa diverifikasi.

Jadi, Skandal Keberlanjutan ini Apa Artinya Buat Kita?

Skandal keberlanjutan ini harus jadi wake-up call. Kita sebagai pelari dan konsumen punya power besar. Uang kita adalah suara. Setiap kali kita beli berdasarkan nilai dan riset, kita paksa industri untuk berubah.

Jangan sampai semangat lari kita untuk kesehatan diri dan bumi, justru dikapitalisasi jadi alat greenwashing yang sempurna. Mereka jual ilusi penyelamatan. Kita harus tuntut aksi nyata.

Mulai sekarang, tanya lebih keras. Pilih lebih cermat. Lari tetap, tapi langkah kita sebagai konsumen harus lebih hati-hati dan cerdas. Karena bumi nggak butuh sepatu daur ulang palsu. Butuh komitmen yang beneran.